Negeri Abu Nawas
23.30
Sesak rasanya dada ini, dan jari-jari tanganku hanya mampu terkulai lemah di keyboard beberapa saat sebelum saya memulai menulis artikel ini. Rasanya saya sudah kehabisan kosa kata untuk menggambarkan kepedihan rakyat ini yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Ya Allah, entah kesabaran seperti apa yang telah Engkau semayamkan di hati-hati rakyat Indonesia sehingga begitu legowo menerima perlakuan seperti ini. Sebenarnya, awalnya saya ingin menulis yang indah-indah saja minggu ini, seperti saran seorang teman : “ya mbok sekali-kali nulis yang bagus-bagus gitu tah, jangan selalu tentang berita pilu, buruk, sedih yang membuat kita pesimis. Di balik awan pekat masih ada langit biru, kan?” Tapi entah kenapa, topik yang indah-indah yang hendak saya tulis menguap seketika, dan terpaksa saya menulis tentang yang “buruk-buruk” lagi. Maafkan saya, kawan!
Yah, Sebuah paradoks negeri tiba-tiba terpamer di depan saya ketika membolak-bolak sebuah surat kabar yang saya pinjam dari seorang teman. Mataku tertumbuk ke sebuah halaman suratkabar yang menampilkan gambar seorang pengemis tua renta dengan rambut yang penuh uban terbungkuk bungkuk dengan mangkok ditangannya, dan disampingnya dua orang polisi sedang memegangi lengannya. Dibawah gambar tersebut bertuliskan: RAZIA: Seorang pengemis tua sedang diamankan oleh tiga polisi Pamong Praja Kota Bogor didepan pasar Bogor, Jabar, Kamis (16/3). Dalam razia ini berhasil dijaring 22 gelandangan dan pengemis (gepeng) dan 30 orang anak jalanan. Mereka dianggap melanggar Perda No 1 Tahun 1990 tentang K3. Kemudian dihalaman lain sebuah surat kabar tertulis berita tentang kemenangan ExxonMobil sebagai kepala operator eksplorasi lapangan minyak dan gas Cepu dalam jangka waktu 30 tahun. 30 tahun man! Sebuah jangka waktu yang cukup lama untuk mengeruk habis kekayaan negeri ini. ExxonMobil jingkrak-jingkrak, pertamina gigit jari, raykat menangis.
Suprisenya, Pengumuman kemenangan Exxsonmobil keluar tidak sampai 24 jam sebelum kedatangan Condy –Panggilan Condolezza Rice, Menlu AS-- ke Indonesia. Ini menimbulkan tanya besar : Ada kaitan apa antara Kedatangan condy dan dimenangkannya ExxonMobil? Apa ada proses “Tekan-Menekan” disini? (Tekan menekan bukan hal yang aneh lagi di Indonesia sejak zaman kalabendu sampai jaman encing-encing pake kaca mata riben naik mercy, sampai-sampai Indonesia tubuhnya makin ringsek singset dan nafasnya ngek-ngekan akibat sering ditekan-tekan pihak asing)
Rasanya sangat awam kalau kita hanya bisa membaca bahwa kedatangan Condy hanya sekedar kunjungan biasa. Dan juga masih sangat lugu jika kita membaca bahwa “kemenangan” ExxonMobil hanya semata bisnis biasa. Dimenangkannya ExxonMobil sarat dengan muatan politis! ExxonMobil bisa dimanfaatkan AS untuk mengalirkan secara langsung kekayaan bumi Indonesia ke Washington. Oleh karena itu, AS merasa perlu menekan Indonesia untuk memenangkan ExxonMobil. Ini juga bisa menjadi balas budi Bush terhadap ExxonMobil yang telah mendanai Bush dalam kampanye pemilihan presiden tahun 2004. Jadi kunjungan Condy ke Indonesia harus dilihat sebagai upaya AS untuk memberikan tekanan kepada Pemerintah Indonesia dalam kaitannya dengan pengelolaan Blok Cepu. (selain agenda politis lainnya seperti pencarian dukungan atas War On Terorisme nya, juga penggalangan dukungan dari Indonesia dalam masalah Paletina dan Iran, dsb.)
Rasanya patut kita bertanya: Kenapa Indonesia sama sekali tidak bisa mendongak menghadapi tekanan AS? Kenapa selalu kepentingan Amerika yang dikedepankan dibandingkan kepentingan rakyat? Dimenangkannya ExxonMobil semakin memperpanjang daftar pengkhianatan penguasa kepada rakyatnya, setelah sebelumnya penguasa sudah menorehkan luka yang tak pernah kering di hati rakyat dengan membiarkan para maling-maling itu melakukan pengkaplingan-pengkalipngan atas wilayah tambang Indonesia: Timika untuk Freeport, Lhok Seumawe untuk Exxon mobil, Sulawesi Selatan untuk Mosanto, Buyat-Minahasa dan Sumbawa untuk Newmont International, Teluk Bintun di Papua untuk British Petrolium, Kaltim untuk PT Katim Prima Coal, dsb. Membaca Indonesia kita diajak untuk membaca kisah Abunawas. Bagaimana Abu Nawas yang harus bersembunyi dalam peti ketika maling memasuki rumahnya. Abu Nawas sembunyi bukan karena takut sama maling, tapi karena malu jika maling tersebut tidak menjumpai apapun yang berharga dirumahnya. Nah, Indonesia adalah negeri Abu Nawas. Dari pada harus malu dibilang tidak punya harta untuk dicuri, lebih baik menunjukkan tempat-tempat harta tersebut dan kemudian sambil tersersenyum manis kita berkata : Silahkan Ambil, silahkan Ambil!
Membaca Indonesia kita diajak untuk menyelami kehidupan sebuah negeri seribu satu paradoks (Mengalahkan cerita Seribu satu malam nih): (1) Kita berani menggelandang Para Gepeng dan tukang becak yang dianggap melanggar aturan kebersihan dan tata keindahan Kota, di sisi lain kita tidak sanggup meluruskan punggung dihadapan mereka yang nyata-nyata menjarah harta kekayaan kita. (2) Katanya, bumi, air dan semua kekayaan alam di Indonesia dikelola sebasar-besar kemakmuran rakat, faktanya, bumi air dan kekayaan alam dikelola sebesar-sbesar kemakmuran penguasa dan pengusaha (3) Tiap tahun Universitas-universitas menelorkan puluhan ribu sarjana, tapi kenapa untuk pengelolaan kekayaan alam kita masih menyerahkan kepada pihak Asing? …………..(1001) Kita terlalu sering berdiskusi tentang banyak hal tapi kita belum mampu menjalin berbagai persoalan yang menindih bangsa ini menjadi simpul untuh yang bisa menjawab : Apa sebenarnya “Penyakit” mendasar dari semua ini? Dan Alternatif “pengobatan” seperti apa yang cocok untuk peyakitnya?”
Semoga kita punya banyak waktu untuk mendiskusikan kembali hal ini, sambil bercerita tentang lengan-lengan kering yang menengadah mengharap sepotong roti dari gedung-gedung bertingkat, atau tentang orang-orang yang berjongkok diatas tulang kaki nya yang kering kerontang, memeluki perutnya yang melilit perih, menatapi anak-anaknya yang kurus dengan tatapan mata kosong, perut buncit berisi bakteri dan udara udara kotor akibat busung lapar. Ya, semoga masih ada waktu.
3:00 Dini hari… Saatnya tidur, dan semoga ketika kita terbangun esok hari kita selalu teringat oleh Sabda Rasul “ Barangsiapa yang bangun pagi, dan tidak memikirkan urusan kaum muslimin, maka bukan golongan mereka” Fitri_asad@yahoo.com


Recent Comments