« January 2006 | Main | July 2006 »

June 27, 2006

Negeri Abu Nawas

23.30

Sesak rasanya dada ini, dan jari-jari tanganku hanya mampu terkulai lemah di keyboard beberapa saat sebelum saya memulai menulis artikel ini. Rasanya saya sudah kehabisan kosa kata untuk menggambarkan kepedihan rakyat ini yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Ya Allah, entah kesabaran seperti apa yang telah Engkau semayamkan di hati-hati rakyat Indonesia sehingga begitu legowo menerima perlakuan seperti ini. Sebenarnya, awalnya saya ingin menulis yang indah-indah saja minggu ini, seperti saran seorang teman : “ya mbok sekali-kali nulis yang bagus-bagus gitu tah, jangan selalu tentang berita pilu, buruk, sedih yang membuat kita pesimis. Di balik awan pekat masih ada langit biru, kan?” Tapi entah kenapa, topik yang indah-indah yang hendak saya tulis menguap seketika, dan terpaksa saya menulis tentang yang “buruk-buruk” lagi. Maafkan saya, kawan!   

Yah, Sebuah paradoks negeri tiba-tiba terpamer di depan saya ketika membolak-bolak sebuah surat kabar yang saya pinjam dari seorang teman. Mataku tertumbuk ke sebuah halaman suratkabar yang menampilkan gambar seorang pengemis tua renta dengan rambut yang penuh uban terbungkuk bungkuk dengan mangkok ditangannya, dan disampingnya dua orang polisi sedang memegangi lengannya. Dibawah gambar tersebut bertuliskan: RAZIA: Seorang pengemis tua sedang diamankan oleh tiga polisi Pamong Praja Kota Bogor didepan pasar Bogor, Jabar, Kamis (16/3). Dalam razia ini berhasil dijaring 22 gelandangan dan pengemis (gepeng) dan 30 orang anak jalanan. Mereka dianggap melanggar Perda No 1 Tahun 1990 tentang K3. Kemudian dihalaman lain sebuah surat kabar tertulis berita tentang kemenangan ExxonMobil sebagai kepala operator eksplorasi lapangan minyak dan gas Cepu dalam jangka waktu 30 tahun. 30 tahun man! Sebuah jangka waktu yang cukup lama untuk mengeruk habis kekayaan negeri ini. ExxonMobil jingkrak-jingkrak, pertamina gigit jari, raykat menangis.

Suprisenya, Pengumuman kemenangan Exxsonmobil keluar tidak sampai 24 jam sebelum kedatangan Condy –Panggilan Condolezza Rice, Menlu AS-- ke Indonesia. Ini menimbulkan tanya besar : Ada kaitan apa antara Kedatangan condy dan dimenangkannya ExxonMobil? Apa ada proses “Tekan-Menekan” disini? (Tekan menekan bukan hal yang aneh lagi di Indonesia sejak zaman kalabendu sampai jaman encing-encing pake kaca mata riben naik mercy, sampai-sampai Indonesia tubuhnya makin ringsek singset dan nafasnya ngek-ngekan akibat sering ditekan-tekan pihak asing)

Rasanya sangat awam kalau kita hanya bisa membaca bahwa kedatangan Condy hanya sekedar kunjungan biasa. Dan juga masih sangat lugu jika kita membaca bahwa “kemenangan” ExxonMobil hanya semata bisnis biasa. Dimenangkannya ExxonMobil sarat dengan muatan politis! ExxonMobil bisa dimanfaatkan AS untuk mengalirkan secara langsung kekayaan bumi Indonesia ke Washington. Oleh karena itu, AS merasa perlu menekan Indonesia untuk memenangkan ExxonMobil. Ini juga bisa menjadi balas budi Bush terhadap ExxonMobil yang telah mendanai Bush dalam kampanye pemilihan presiden tahun 2004. Jadi kunjungan Condy ke Indonesia harus dilihat sebagai upaya AS untuk memberikan tekanan kepada Pemerintah Indonesia dalam kaitannya dengan pengelolaan Blok Cepu. (selain agenda politis lainnya seperti pencarian dukungan atas War On Terorisme nya, juga penggalangan dukungan dari Indonesia dalam masalah Paletina dan Iran, dsb.)

Rasanya patut kita bertanya: Kenapa Indonesia sama sekali tidak bisa mendongak menghadapi tekanan AS? Kenapa selalu kepentingan Amerika yang dikedepankan dibandingkan kepentingan rakyat? Dimenangkannya ExxonMobil semakin memperpanjang daftar pengkhianatan penguasa kepada rakyatnya, setelah sebelumnya penguasa sudah menorehkan luka yang tak pernah kering di hati rakyat dengan membiarkan para maling-maling itu melakukan pengkaplingan-pengkalipngan atas wilayah tambang Indonesia: Timika untuk Freeport, Lhok Seumawe untuk Exxon mobil, Sulawesi Selatan untuk Mosanto, Buyat-Minahasa dan Sumbawa untuk Newmont International, Teluk Bintun di Papua untuk British Petrolium, Kaltim untuk PT Katim Prima Coal, dsb. Membaca Indonesia kita diajak untuk membaca kisah Abunawas. Bagaimana Abu Nawas yang harus bersembunyi dalam peti ketika maling memasuki rumahnya. Abu Nawas sembunyi bukan karena takut sama maling, tapi karena malu jika maling tersebut tidak menjumpai apapun yang berharga dirumahnya. Nah, Indonesia adalah negeri Abu Nawas. Dari pada harus malu dibilang tidak punya harta untuk dicuri, lebih baik menunjukkan tempat-tempat harta tersebut dan kemudian sambil tersersenyum manis kita berkata : Silahkan Ambil, silahkan Ambil!

Membaca Indonesia kita diajak untuk menyelami kehidupan sebuah negeri seribu satu paradoks (Mengalahkan cerita Seribu satu malam nih): (1) Kita berani menggelandang Para Gepeng dan tukang becak yang dianggap melanggar aturan kebersihan dan tata keindahan Kota, di sisi lain kita tidak sanggup meluruskan punggung dihadapan mereka yang nyata-nyata menjarah harta kekayaan kita. (2) Katanya, bumi, air dan semua kekayaan alam di Indonesia dikelola sebasar-besar kemakmuran rakat, faktanya, bumi air dan kekayaan alam dikelola sebesar-sbesar kemakmuran penguasa dan pengusaha (3) Tiap tahun Universitas-universitas menelorkan puluhan ribu sarjana, tapi kenapa untuk pengelolaan kekayaan alam kita masih menyerahkan kepada pihak Asing? …………..(1001) Kita terlalu sering berdiskusi tentang banyak hal tapi kita belum mampu menjalin berbagai persoalan yang menindih bangsa ini menjadi simpul untuh yang bisa menjawab : Apa sebenarnya “Penyakit” mendasar dari semua ini? Dan Alternatif “pengobatan” seperti apa yang cocok untuk peyakitnya?”

Semoga kita punya banyak waktu untuk mendiskusikan kembali hal ini, sambil bercerita tentang lengan-lengan kering yang menengadah mengharap sepotong roti dari gedung-gedung bertingkat, atau tentang orang-orang yang berjongkok diatas tulang kaki nya yang kering kerontang, memeluki perutnya yang melilit perih, menatapi anak-anaknya yang kurus dengan tatapan mata kosong, perut buncit berisi bakteri dan udara udara kotor akibat busung lapar. Ya, semoga masih ada waktu.

3:00 Dini hari… Saatnya tidur, dan semoga ketika kita terbangun esok hari kita selalu teringat oleh Sabda Rasul “ Barangsiapa yang bangun pagi, dan tidak memikirkan urusan kaum muslimin, maka bukan golongan mereka” Fitri_asad@yahoo.com

June 23, 2006

Mahasiswa: antara harapan dan kenyataan

Dengan berbekal uang hasil penjualan kambing dan uang tabungan yang ia kumpulkan selama beberapa tahun, dan dengan diiringi do’a kedua orang tuanya berangkatlah si Udin menuju kota Banjarmasin untuk melanjutkan studinya dengan harapan nantinya ia bisa menjadi “orang”. Setelah melewati pesaingan yang ketat, ia pun diterima di salah satu  perguruan tinggi di Banjarmasin.

Dengan penuh kesabaran ia menjalani masa-masa kuliahnya, tetap dengan cita-cita semula: supaya kelak bisa menjadi “orang”. Setelah melewati masa-masa  yang panjang dan melelahkan , akhirnya si Udin pun lulus. Pada waktu acara wisuda sarjana orang tuanyapun turut hadir. Dengan wajah berseri-seri mereka mendampingi sang anak yang mengenakan pakaian “kebesaran” (toga)- tanpa pernah mempersoalkan mengapa mereka harus berbusana seperti itu. Syukuran pun diselenggarakan-apapun tafsiran mereka atas makna syukuran . Si orang tua mungkin tidak pernah tahu cara apa yang telah ditempuh anaknya dalam upaya meraih gelar sarjana. Dan si Udin pun seakan lupa total pada cara-cara yang dilaluinya selama ini.

Dengan berbekal ijazah yang baru diterimanya, si Udin  kemudian harus terbentur-bentur dari pintu  instansi yang satu ke pintu instansi yang lain, kenyataan pahit harus diterimanya: tidak ada yang sudi menerimanya jadi pegawai (Karena memang kesempatan kerja yang semakin sempit seperti sekarang ini memperkecil kemungkinan ia mendapat tempat). Lama kemudian,  setelah nyaris frustasi dan setelah map yang berisi surat lamaran dan macam-macam surat lainnya lusuh, barulah ia mendapatkan pekerjaan, itupun dibidang yang tidak diminatinya dan  tidak ada kaitannya dengan disiplin ilmu dipelajarinya selama bertahun-tahun di bangku kuliah.

Si Udin masih lebih beruntung bila dibandingkan dengan temannya yang “hingga tetes darah penghabisan” belum juga mendapatkan pekerjaan. Akhirnya ia pulang kampung, bertani, ataupun apapun yang penting ia bisa hidup.

Sebenarnya ada juga temannya yang bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan yang layak dan posisi yang “lumayan” . mengapa?  Karena ia punya koneksi yang kuat atau modal yang dapat digunakan untuk membayar uang “ketebelece”. Atau sebagian yang lain memang telah dipersiapkan sejak dini oleh ayahnya, pamannya, saudaranya, atau kerabatnya. Dengan kata lain, jaringan koneksi memang telah tersusun rapi jauh sebelum mereka lulus kuliah.

Dari realitas tersebut  orang pun mulai  mempertanyakan: “ mengapa suatu perguruan tinggi bisa sampai menghasilkan produk yang kualitas intelektual dan kualitas moralnya rendah?

Tulisan ini tidak ingin mencari mana telur masalah, dan mana ayam persoalannya. Tulisan ini hanya sekedar “risalah lepas” bagi rekan-rekan mahasiswa dan juga para staff akademika bahwa tantangan yang kita hadapi ke depan sangat berat. Saatnya kita membenahi sistem pendidikan yang ada, sehingga nantinya dapat melahirkan insan-insan akademis yang handal secara inteletual dan anggun secara moral. Untuk menuju ke arah tersebut, suguhan-suguhan keilmuan dan kajian-kajian ilmiah harus di semarakkan untuk dapat merangsang kreativitas dan kemampuan penalaran kritis mahasiswa, sehingga nantinya ia mampu memposisikan diri di tengah-tengah masyarakatnya sebagai pembawa perubahan (agent of change). Menjadi “orang” sebagaimana yang menjadi harapan si Udin, seharusnya tidak diukur dari sudut pandang materi. Menjadi “orang” disini adalah  sejauh mana ia ikut bergumul dengan persoalan-persoalan kemasyarakatan dan mampu memberikan gugusan ide yang cerdas dan solutif yang dapat memberikan arah bagi kemacetan sosial yang dihadapi masyarakatnya.

Barangkali perlu mempertanyakan kembali, apakah yang kita kerjakan selama ini telah sesuai dengan hakikat tujuan pendidikan suatu perguruan tinggi sebagai lembaga ilmu pengetahuan? . Yang sering dilupakan bahwa tujuan utama dari pendidikan universitas, adalah membentuk kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah manusiawi dan menolong manusia membentuk suatu dunia yang lebih baik baginya.

June 18, 2006

Puisi Air Mata Terakir untuk Gi

             Kutangkap semua yang melayang tentangmu, kurangkum dalam bakul memoriku, kugerai perlahan menjadi puisi air mata, kemudian ku persembahkan untukmu. Karena engkau pernah hadir.

 

            Gi, Aku sungguh tak pernah lupa saat kau pertama kali menginjakkan kaki di halaman hatiku. Saat aku hampir mampus di kunyah sepi, kau menghampiriku. Kau datang dengan sejuta cerita dan ceria yang kau tumpahkan semua di depan mukaku. Kau datang dengan sejuta tawa dan canda yang tidak pernah habis aku lahap. Aku sangat mengagumimu.

 

            Aku juga takkan lupa saat kau bercerita tentang tangis bisu anak jalanan yang mengais nafasnya di terik aspal. Tentang asap knalpot dan parfum yang merobek ozon. Tentang jiwa jiwa yang mabuk di ujung malam dalam pesta. Kau bercerita tentang langit yang berkabut. Tentang peradaban yang serba absurd. Tentang lalu lintas yang semrawut. Tentang   wajah negeri yang kusut. Tentang kehidupan urban yang kalang kabut. Tentang dunia yang semakin sekarat dan keriput. Tentang…

 

            Kau selalu mempunyai cerita, dan akupun selalu siap melahapnya. Karena aku sangat mencintaimu.

 

            “Gi…” Sapaku ketika kulihat Yahoo Messengermu menyala.

 

            “Hadir…!” Kebiasaanmu setiap aku sapa. Entah, padahal kita hanya berjabat tangan di awan, tapi aku merasa telah lama mengenalmu. Sungguh aneh!

 

            “Lagi ngapain kok lama baru di jawab…?”

 

            “lagi baca buku yang baru aku beli tadi siang” Aku seakan mendengar tawa ceriamu, melihat senyum dan binar matamu. Ingin rasanya aku menarikmu dari anganku dan kemudian menghadirkanmu dengan paksa di hadapanku. Arrrgh!

 

            “Buku apa, Gi?”

 

            “Novel karangan Susanna Tamaro. Judulnya Va’ ove Ti Porta Il Cuore”

 

            “Apa tuh?”

 

            “Artinya, Pergilah Kemana Hati Membawamu”

 

            “Wow, Keren!”

 

            “Kelak, di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu dan kau tak tahu jalan mana yang harus kau ambil. Janganlah memilihnya dengan asal saja. Tetapi duduklah dan tunggulah sesaat. Tariklah nafas dalam dalam, dengan penuh kepercayaan, seperti saat kau bernafas di hari pertamamu di dunia ini. Jangan biarkan apapun mengalihkan perhatianmu. Tunggulah, dan tunggulah lebih lama lagi. Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarkanlah hatimu. Lalu, ketika hati itu bicara, beranjaklah, dan pergilah kemana hati membawamu”

 

            “Wow, itu untukku yah?” Pede!

 

            “Itu kutipan novel tersebut”

 

            “Oooo”

 

            Hm, aku salut dengan kegilaanmu dengan sastra, walau kamu mengaku sastra bikin imajimu liar dan juga bikin otakmu sedikit error. Dasar!

 

            “Pernah baca bukunya Seno Gumira Adjidarma yang judulnya Sepotong Senja Untuk Pacarku” Tanyamu sesaat setelah terdiam.

 

            “Belum” Kuakui aku begitu blo’on tentang sastra.

 

            Kemudian kamu bercerita tentang Sukab yang berusaha mencuri senja, memotongnya sebesar ukuran postcard untuk dipersembahkan kepada pacarnya.

 

            “Aku tidak mampu memberikan senja untukmu” Godaku.

 

            “Aku tidak suka senja. Aku suka matahari dan pelangi” Kamu memberikan simbol senyum di massagemu.  Akupun tersenyum.

 

            “Akan kucungkil mentari dengan jemari, kemudian kupersembahkan untukmu. Akan kutambah lingkar pelangi, kemudian kukalungkan ke lehermu”

 

            “Wow, hebat!”

 

            Aku hanya bisa tersenyum di depan komputer. Soalnya yang aku tulis tadi adalah puisi jiplakan.

 

            “Kamu juga lagi ngapain, Yo?”

 

            “Lagi dengerin lagunya Pistol lan Kembang. Judulnya Ojo Mewek

 

            “Ih, lagu apa tuh. Lagu jawa yah? Belum pernah dengar”

 

            Masa’ sih gak pernah dengar?”

 

            “Iya”

 

            Aku ngakak sendiri di depan komputer.

            “Itu Guns ‘n Roses, Don’t Cry”

 

            “Huh, dasar!”

            “Kena, loe! Ha..ha…ha…”

 

            “Hi…hi…hi…”

 

            Gi, aku menyukai semua tentangmu. Kau menyentuh hidupku dengan cara yang beda. Walau kita bertemu hanya lewat hamburan huruf-huruf dari jari-jari yang mematuk di keyboard, tapi aku mendapatkan sesuatu yang istimewa di sana. Kedengarannya sangat aneh. Tapi, bukankah Kahlil Ghibran Dan May Ziadah pun merajut rasa saat keduanya belum pernah berjumpa? Seperti katamu, cinta itu irrasional. Cinta itu absurd. Tak butuh ruang tak butuh definisi. Walau kata sebagian orang cinta itu tai kucing. Asem!

 

            Jujur, bersamamu seperti tak ada mendung yang mampu bergelayut. Karena kamu selalu mampu menyibaknya dengan caramu. Tapi setelah beberapa saat kebersamaan kita, ada nyeri yang menusuk pelan. Engkau yang terpenjara di ruang maya ternyata sangat mewah untuk aku petik dengan tangan rapuhku. Aku seperti kecoak tolol yang merindukan matahari.

 

            Aku memutuskan untuk keluar dari bayanganmu. Tapi itu tak mudah. Semua tentangmu telah menancap kuat di biji mataku. Di ubun ubunku. Tapi aku harus bisa keluar, Gi. Harus! Kenyataan bahwa kamu adalah kembang mewah yang tak mungkin bisa aku petik dengan tangan kerdilku membuat nyaliku melorot seketika dan aku memilih untuk mengundurkan diri dari percaturan memperebutkan hatimu. Aku tidak mempunyai modal apapun untuk dapat mengatrol harga diriku untuk mampu berdiri tegar di hadapan orang tuamu dan kemudian berkata “Pak, izinkan saya mempersunting putrimu” Arrgh!

 

            Dengan nyeri yang mengigit-gigit aku memberanikan diri mengirimkan e-mail perpisahan untukmu. Belum sempat kusend e-mail yang akan aku kirim, aku sudah menerima e-mail yang serupa darimu.

Selamat  tinggal, Yo.

 

            Yo, ijinkan Gi pergi. Gi tidak bisa mengatakannya sekarang. Biarlah waktu yang menjawab teka-teki ini dan membawanya ke hadapanmu. Suatu saat kita juga akan saling melupa, dan kitapun merayap di dunia masing-masing. Maafkan aku.

 

          Anggi

            Membingungkan!

 

            Sebuah mixer besar mengaduk-aduk isi kepalaku. Seribu pertanyaan yang tak mampu kujawab meraung-raung memenuhi tengkorak kepalaku. Kenapa kamu tiba-tiba ingin pergi, Gi? Aku kemudian menekatkan diri datang ke kotamu. Menemuimu. Sebuah kenyataan pahit terpaksa kutelan. Kamu telah menikah dengan pria kaya dua hari yang lalu. Inikah alasan kepergianmu, Gi? Akupun kemudian pergi ke tempat Pingkan, sahabatmu. Aku hanya mematung tak bernyawa ketika pingkan bilang “Dia tidak pernah serius kepadamu, Yo”

 

            Gie ternyata kamu tidak pernah menganggapku ada. Aku hanyalah bayang bayang sepi bagimu. Tapi kenapa kamu memberiku mimpi? Aku takut bermimpi. Karena banyak dari mimpiku yang patah. Ah, aku benar benar hanya kecoak dungu yang sekedar numpang lewat di celah celah hidupmu. Padahal aku begitu mencintaimu dengan seluruh nafasku. Kalaupun aku pernah ingin mengucapkan selamat tinggal, aku tidak berniat untuk benar benar pergi. Aku hanya butuh sedikit waktu untuk menganyam sayap kuda semberaniku untuk dapat membawamu terbang mengikuti jejak jejak awan. Terbang mencungkil mentari dengan jemari  kemudian mempersembahkannya untukmu. Seperti janjiku.

 

            Tiba-tiba air merayap pelan di kulit wajah. Cengeng! Tidak masalah. Laki-lakipun butuh menangis.

 

            Akupun pulang dengan tubuh melayang antara bumi dan awan. Membawa nafas yang masih tersisa. Kepedihan kembali mengalun.

Kisah tentangmu berakhir  di sini. Selamat tinggal, Gie.

Aku Pulang...Tanpa dendam...Kuterima kekalahanku...jreng..jreng...

***

 

            Sepi kembali mengoyak kejam. Berada dalam kamar kos ukuran 3x4 membuat aku semakin naif dari panggung dunia yang besar. Tak ada cinta, tak ada kawan.Menyesakkan. Menyebalkan.

 

            

Aku hanya terpaku, mendekap bantal, menatapi guratan guratan kapur di dinding kamar sambil menyigi memori-memori lapuk. Tiba tiba mataku hinggap di potret ayah dan bunda yang tersenyum jenaka ke arahku. Ku dengar ayah berbisik “Nih, lihat! Ayah mendapatkan bundamu yang baik hati dan shalehah tanpa pacaran” Aku merasa tersindir.       

           Maafkan hambaMu Tuhan yang sempat terlupa bahwa ajal, rizki dan jodoh hanya di tanganMu. Kelak, jika aku ingin mencintai satu di antara mereka, bukan sekedar karena ingin mendekap dan memilikinya. Tapi, semoga aku mencintainya karena kerena kecintaanku kepadaMu. Bersamanya merayapi sisa usia dalam mengais ridhaMu.

 

Ya Allah, tetapkanlah aku di jalanMu.

 

Mentari hatiku kembali tersenyum. Ada damai yang menyusup pelan. Tak ada lagi sepi. Tak ada lagi duri.